Cara memakai kalkulator ini
- Isi Imbal hasil nominal, yaitu persentase per tahun yang tertera pada laporan investasi atau bilyet deposito Anda.
- Isi Tingkat inflasi yang Anda perkirakan dan Pajak atas imbal hasil sebagai persen dari keuntungan (isi 0 bila tidak ada pajak).
- Masukkan Dana yang diinvestasikan dan jumlah Tahun.
- Baca Imbal hasil riil per tahun, lalu bandingkan Nilai dalam uang masa depan dengan Nilai dalam uang hari ini.
Return nominal dan return riil
Return nominal adalah angka yang tercetak di rekening koran: berapa rupiah yang bertambah. Return riil mengukur berapa banyak barang yang bisa Anda beli dengan hasil itu setelah harga-harga naik. Jika dana tumbuh 8% sementara harga naik 3%, daya beli Anda naik sekitar 4,85%, bukan 5%.
riil = (1 + nominal × (1 − pajak)) / (1 + inflasi) − 1- nominal = imbal hasil per tahun sebelum pajak dan inflasi
- pajak = tarif pajak atas keuntungan, dalam bentuk pecahan (20% = 0,20)
- inflasi = kenaikan harga per tahun
- riil = pertumbuhan daya beli per tahun
Kalkulator ini lebih dulu mengurangi pajak dari imbal hasil nominal, lalu membaginya dengan inflasi memakai hubungan Fisher yang tepat, bukan sekadar pengurangan.
Contoh: Rp100 juta selama 10 tahun
Dengan imbal hasil nominal 8%, inflasi 3%, dan tanpa pajak, return riil adalah 4,85% per tahun. Dana Rp100.000.000 tumbuh menjadi Rp215.892.500, tetapi nilainya hanya setara Rp160.644.295 dalam uang hari ini.
Sekarang anggap keuntungan dikenai pajak 20%, misalnya seperti pajak final pada bunga deposito. Imbal hasil setelah pajak turun menjadi 6,4% dan return riil menjadi 3,30%. Setelah 10 tahun dana menjadi Rp185.958.605, setara Rp138.370.666 hari ini.
Ketika imbal hasil kalah dari inflasi
Misalkan imbal hasil 4% per tahun sementara inflasi 5%. Return riilnya −0,95%. Setelah 10 tahun Rp100.000.000 tampak menjadi Rp148.024.428, padahal nilainya dalam uang hari ini hanya Rp90.874.159. Rupiah Anda bertambah, tetapi barang yang bisa dibeli justru berkurang.
Karena itu dana jangka panjang yang seluruhnya disimpan di instrumen berbunga rendah bisa pelan-pelan kehilangan nilai. Lihat perubahan harga dengan kalkulator inflasi dan proyeksi pertumbuhan nominal dengan kalkulator bunga majemuk.
Cara memakai hasilnya
Tetapkan tujuan jangka panjang dalam uang hari ini. Jika Anda ingin dana pendidikan anak yang daya belinya setara Rp500 juta sekarang, hitung dengan return riil dan harga hari ini, bukan angka nominal. Lalu uji apakah campuran aset Anda realistis menghasilkan return riil tersebut.
Jalankan kalkulator dengan beberapa nilai inflasi, misalnya 2%, 3%, dan 5%. Selisih hasilnya menunjukkan seberapa rapuh rencana Anda terhadap kenaikan harga.
Cara menjaga return riil
- Pahami perlakuan pajak tiap instrumen supaya tidak ada kejutan di akhir.
- Tekan biaya; dampak jangka panjangnya bisa dilihat di kalkulator dampak biaya investasi.
- Sesuaikan aset dengan jangka waktu: kebutuhan jangka pendek butuh keamanan, tujuan jangka panjang butuh pertumbuhan yang mampu mengejar harga.
- Tinjau rencana tiap tahun karena inflasi dan suku bunga berubah.
Contoh keputusan: deposito atau reksa dana
Misalkan Anda ragu antara deposito berbunga lebih rendah dengan pajak final dan instrumen lain yang imbal hasil nominalnya lebih tinggi tetapi berfluktuasi. Masukkan kedua imbal hasil dengan pajak masing-masing, lalu bandingkan return riilnya, bukan angka nominal di brosur.
Instrumen yang return riilnya sedikit lebih tinggi belum tentu lebih baik bila risikonya jauh lebih besar. Gunakan hasil ini untuk memahami selisih, lalu putuskan sesuai toleransi risiko dan jangka waktu Anda.
Asumsi dan batasan
Imbal hasil, inflasi, dan pajak dianggap tetap setiap tahun, dan pajak dikenakan pada seluruh keuntungan tahunan seolah dibayar tiap tahun. Pasar nyata bergerak tidak rata dan aturan pajak berbeda untuk tiap produk. Hasilnya ilustrasi, bukan ramalan; untuk keputusan pajak, tanyakan ke konsultan pajak atau penerbit produk.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara menghitung return riil?
Bagi satu ditambah imbal hasil nominal setelah pajak dengan satu ditambah inflasi, lalu kurangi satu. Pengurangan sederhana (nominal dikurangi inflasi) memberi perkiraan yang dekat pada angka kecil.
Mengapa return riil tidak sama dengan nominal dikurangi inflasi?
Karena inflasi juga menggerus nilai pertumbuhan itu sendiri. Rumus yang tepat membagi, bukan mengurangi, dan selisihnya melebar saat angkanya besar.
Berapa return riil yang dianggap bagus?
Return riil positif apa pun berarti daya beli bertambah. Seberapa bagus tergantung tujuan dan risiko yang Anda sanggup tanggung.
Inflasi mana yang sebaiknya saya pakai?
Pakai rata-rata jangka panjang yang menurut Anda wajar, misalnya sasaran inflasi Bank Indonesia, lalu uji juga angka yang lebih tinggi sebagai pengaman.